BeasiswaLN_DIKTI@yahoogroups.com

Saturday, December 31, 2011

Beasiswa Dikti dan NERAKA Kartu Kredit (Dana Talangan)

Dari: ruri famelia <ruri_famelia@yahoo.com>
Kepada: BeasiswaDikti Milis <BeasiswaLN_DIKTI@yahoogroups.com
Dikirim: Jumat, 30 Desember 2011 7:56
Judul: [Milis Beasiswa DIKTI] Program Kartu Kredit untuk Beasiswa LN Dikti [6 Attachments]
 
Dear Diktiers,
Hari ini saya menerima pemberitahuan dari pihak universitas tempat saya bekerja, dimana saya harus mengisi sebuah format utk membuka tabngan Taplus BNI yg nantinya juga akan diterbitkan sebuah Kartu Kredit yg katanya untuk mempermudah penyaluran dana beasiswa kepada karyasiswa. Pada email ini terlampir surat yang berkenaan dengan program ini.

      Karena saya org yg sangat awam dengan perbankan, saya agak kurang mengerti dengan sistem kartu kredit ini. Di surat lampiran pertama dinyatakan kartu kredit ini tanpa bunga dan minimum payment. Namun pada surat lampiran ketiga saya lihat di bagian pricing ada bunga per bulan retail 2,95%. Saya agak krang paham dengan istilah ini.
Sekaligus saya juga tidak mengerti bagaimana penggunaan kartu kredit ini untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai karyasiswa di Luar negeri. Maksud saya, apakah bisa kita mentransferkan dana itu ke rekening kita sendiri di negara tempat kita kuliah?

Mohon bantuan informasi dari rekan2 diktiers lainnya
---------------------------------------------------------------------------------------
 From: Edi Munawar <edi.munawar@yahoo.co.id>
To: BeasiswaLN_DIKTI@yahoogroups.com 
Sent: Friday, 30 December 2011 3:43 PM
Subject: Re: [Milis Beasiswa DIKTI] Program Kartu Kredit untuk Beasiswa LN Dikti
 
Dear B' Ruri, P' Adi dan Diktier,

Saya belum memiliki informasi akurat tentang pembukaan rekening dan credit card sebagai solusi yang ditawarkan untuk mengatasi keterlambatan pendistrubusian beasiswa LN Dikti. Namun setelah saya membaca email B' Ruri berikut attachmentnya, logika saya mengatakan solusi ini ditawarkan bertujuan meminimalisir masalah bukan menyelesaikan masalah.

Maksudnya, pada sa'at beasiswa belum disalurkan Diktier bisa menarik dana dari mesin ATM di seluruh dunia untuk kebutuan sehari-hari. Hal ini memungkinkan karena Credit Card yang dikeluar kan oleh kedua bank Nasional tersebut teregister di VISA atau Master Card. Hal yang sama bisa kita lakukan dengan kartu ATM yang kita miliki sebagai nasabah salah satu bank nasional atau bank ditempat study. Namun konsekwensinya Diktier dikenakan interest atas nominal yang kita tarik. Uang yang kita tarik akan secara otomatis di debet dari rekening kita sa'at beasiswa telah masuk ke rekening tersebut. Artinya, dengan mekanisme ini Diktier tidak akan mengalami ketiadaan uang untuk kebutuhan sehari-hari selama beasiswa belum keluar/didistribusikan.

Yang saya khawatirkan adalah tingkat keterlambatan pendistribusian tidak menjadi lebih singkat. Artinya kalau tingkat keterlambatan beasiswa tetap pada level seperti sa'at ini, Diktier akan menanggung harus membayar interest berlipat-lipat dari setiap dana yang ditarik dengan credit card. Coba banyangkan kalau interest 2,95% perbulan dan tingkat keterlambatan pendistribusian beasiswa masih pada kisaran 3-4 bulan.

Wassalam,

Edi
TU Wien - Banda Aceh
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
 From: dede sadewo <day_brawijaya@yahoo.com>
To: "BeasiswaLN_DIKTI@yahoogroups.com" <BeasiswaLN_DIKTI@yahoogroups.com
Sent: Friday, 30 December 2011, 6:27
Subject: Re: [Milis Beasiswa DIKTI] Program Kartu Kredit untuk Beasiswa LN Dikti

 
Dear All Diktiers,

saya mencoba berbagi pengalaman saya pernah memiliki, berurusan dan tercekik oleh kartu kredit. Harapan saya yang paling utama adalah semoga diktiers TIDAK/JANGAN SAMPAI TERJEBAK oleh IMING-IMING CREDIT CARD. Mengerikan sekali jika sampai rekan diktiers ada yang sampai terjebak memiliki kartu kredit terkait dengan keterlambatan pencairan beasiswa. Saya tidak akan membahas mengenai keterlambatan beasiswa. Terlalu buang-buang tenaga dan pikiran kalau terus menerus membahasnya. Yang ingin saya sampaikan disini adalah untung--rugi memiliki kartu kredit dikaitkan dengan kondisi finansial yang sekarang dihadapi oleh rekan-rekan diktiers.

Saya sudah baca lampiran yang disertakan dalam email Mbak Ruri. Setelah saya baca dengan seksama, seketika saya melihat "sebuah bom waktu" yang siap sewaktu waktu memangsa korbannya yaitu rekan diktiers yang terjebak "rayuan kartu kredit" itu. Saya akan coba bahasnya one-by-one:
1. Halaman 3:
1.1. Point II: Spesifikasi Produk: II.7. Jenis Kartu GOLD (sejauh pengalaman saya memiliki berbagai macam kartu kredit dari bank swasta nasional dan bank asing), tidak ada satu pun Jenis GOLD yang memberikan fasilitas begitu "generous" dan "murah hati". Mulai jenis GOLD dan PLATINUM selalu menuntut "biaya fasilitas" yang "tidak bisa dibilang murah". Dan itu terbukti pada point berikut,

2. Halaman 3:
2.1. Point III: Iuran Tahunan: Rp. 240.000,00 (mohon diktiers lebih teliti, siapa yang akan menanggung biaya iuran tahunan ini????)--Kalau yang harus menanggung adalah diktiers/pemegang kartu, maka sungguh kejam dan kelewatan pejabat di lingkungan DIKTI SIAPAPUN ITU, yang menawarkan solusi ini. Karena artinya solusi ini justru menjebak diktiers. 

2.2. Point III.2: CASH ADVANCE: bunga 0% (INI MENCURIGAKAN SEKALI. AMAT SANGAT MENCURIGAKAN. Bagaimana mungkin semua bank memberlakukan bunga Cash Advance lebih tinggi dari pembelanjaan, tetapi di kasus ini Cash advance diberikan bunga 0%. Saya curiga justru bunga itu akan dialihkan ke hitungan selisih kurs. Misalnya, anda yang di Australia menarik tunai dalam bentuk AUD (dolar Aussie), maka (sejauh yang saya tau, penghitungannya adalah di konversi ke rupiah baru setelah itu ditagihkan ke card holders). Saya sudah kenyang menggunakan kartu kredit Indonesia di Aussie, dan selalu ada selisih kurs yang JAUUUUHHH diatas selisih kurs normal. Bayangkan jika anda punya (diberikan ) plafon 100juta rupiah. Kemudian anda tarik tunai 50% saja, 50juta dalam hal ini akan keluar uang dari ATM sebesar AUD 5494 (kurs 1 AUD = 9100 rupiah) . Dalam tagihan kartu kredit anda nantinya, saya sangat yakin kurs yang dipakai akan jauh melebihi 9100 dan jelas tagihan anda nantinya jika dikonversi lagi ke dalam AUD pastiiii akan melebihi angka 5494 AUD, ditambah beban bunga nantinya. Ada lagi Cash Advance Fee sebesar 20.000 rupiah. Setau saya jarang atau malah amat langka bisa menarik tunai lebih dari 3000AUD per hari. Katakan kita hanya bisa menarik 1000dolar, sedangkan yang kita butuh 5000 dolar. Maka ada lagi tambahan biaya transaksi tarik tunai 5 x 20.000 = 100.000 rupiah. Angka ini akan sangat membengkak jika dalam rekening tabungan tidak segera ada uang tunai yang bisa langsung di debet "full payment" oleh bank.----Terbayang berapa banyak bunga yang harus dibayarkan nantinya. 

2.3. Point III.4 dan III.5: ada biaya pengiriman kartu dan PIN yang total jumlahnya 700.000 rupiah. Umumnya setau saya itu juga akan dibebankan pada pemegang kartu. Belum lagi dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk proses pengiriman kartu. Pengalaman saya PIN hanya diberikan jika kartu sudah diterima oleh pemegang kartu. Artinya lagi, sang pemegang kartu tidak bisa segera menggunakan kartunya segera.

Sementara itu saja masukan dan saran serta sumbang informasi mengenai manfaat, atau untung rugi memiliki kartu kredit. Saya pernah memiliki 7 kartu kredit dari bank yang berbeda, yaitu Citibank, ABN AMRO (ANZ), Bank Mandiri (2), Bank BNI, BII, BRI. Saya memiliki bukan karena saya kredibel tapi justru karena saya dalam posisi keuangan yang sulit (mungkin mirip dengan kondisi rekan2 saat ini). Sehingga saya punya CC karena untung gali lubang tutup lubang. Akan berbeda situasinya jika kita punya kartu kredit di saat kita memiliki dana berlebih. CC akan ada manfaatnya yaitu mendapat bonus reward dan kemudahan lain JIKA DAN HANYA JIKA kondisi keuangan kita stabil dan surplus. Sehingga kita bisa membayar full payment dalam rentang 30hari (atau pada beberapa bank diberikan bebas bunga untuk 50hari) tanpa dikenakan bunga.

Saya pernah 9tahun lamanya (2001 sampai 2010) terjerat cekikan kartu kredit tersebut. Dari situ saya banyak belajar dan akhirnya saya bisa lepas dari semua jeratan itu ketika saya lolos dan bisa berangkat studi s3 tahun 2009. Ketika istri dan anak saya putuskan ikut saya dan istri dengan kerelaan hati bekerja membantu finansial kami. 

Demikian sahabat sahabat saya diktiers, tanpa bermaksud mendiskreditkan perbankan, alangkah baiknya jika rekan-rekan TIDAK MENERIMA RAYUAN memiliki kartu kredit di saat finansial anda sedang sulit. ITU ADALAH MENGATASI MASALAH DENGAN MENAMBAH MASALAH BENTUK LAIN. Maaf, bukannya lebay, tapi bisa-bisa kalo anda tidak bisa memenuhi kewajiban bayar, nantinya istri/suami anda atau keluarga anda akan dikejar-kejar debt collector. Berhutang itu boleh saja tapi berhutang dengan memiliki kartu kredit amat sangat tidak di anjurkan oleh banyak konsultan keuangan dalam dan luar negeri.

Salam, dede, Canberra

Mekanisme Pencairan Dana APBN, Dana Talangan, dan (Pemberantasan) Korupsi

Assalaamu'alaikum DIKTIERS semua,

Pertama tama, saya sampaikan keprihatinan saya kepada DIKTIERS yang mengalami masalah keterlambatan pencairan dana. Saya hanya bisa berdoa semoga tabah menjalani semua ujian ini dan diberi jalan keluar yang terbaik.

Agak melebar dari kasus keterlambatan pencairan dana tsb, ijinkan saya menyampaikan opini saya mengenai hal terkait dengan judul email tsb di atas.

Dari banyak kasus yang terjadi, saya menengarai bhw kasus keterlambatan pencarian dana APBN (termasuk dana beassiwa DIKTI) adalah kasus sistemik dari sistem APBN itu sendiri.
Dan hampir semua fihak atau instansi yang tidak mengalami kasus keterlambatan sepertinya karena mereka mempunyai mekanisme "dana talangan" dengan berbagai cara.
Dalam kasus pembangunan wisma atlet, misalnya, dana talangan itu, yang bahkan digunakan untuk aktifitas menpora, diperoleh dari rekanan proyek pembangunan wisma atlet.
Dalam kasus kami di UMS, dana talangan bagi karyasiswa studi luar negeri DIKTI diperoleh dari kas UMS sendiri.Dalam kasus DIKTIER terbaru telah dicanangkan program dana talangan dari bank pemerintah.

Pertanyaannya: Kalau kita pakai asumsi "tidak ada makan siang gratis di dunia ini"; bagaimana kira kira mekanisme "balas budi"  dari dana talangan tsb ?
Dalam kasus wisma atlet, (dan konon lazimnya proyek proye4k pemerintah di instansi lainnya), balas budi tsb adalah dengan pemenangan tender proyek di instansi tsb.
Dalam kasus UMS, balas budi tsb adalah dengan cara potong gaji dan tambahan kontrak kerja.
Sedangkan dalam kasus terakhir, rupa rupanya balas budi tsb akan dilakukan dengan pembebanan bunga melalui mekasnisme kartu kredit; yang sesungguhnya adalah pekerjaan poko dari bank itu sendiri.

Seringkali saya mendengar cerita dari teman teman saya yang bekerja di TNI/Polri, bhw seorang perwira yagn akan naik pangkat harus menempuh pendidikan tertentu yang membutuhkan biaya. Nah, biasanya, ada pengusaha yang "berbaik hati" memberikan "beasiswa" atau "dana talangan" bagi mereka yang membutuhkannya. Dan kelak, setelah lulus dan naik pangkat, perwira tsb biasanya akan memberikan "balas budi" kepada pengusaha tsb.

Pertanyaan saya, adakah kira kira pengusaha yang tertarik memberikan dana talangan bagi para dosen atau DIKTIERS seperti kita ini ?
Kalau ada, kira kira bagaimana mekanisme "balas budi" thd pemberian dana talangan tsb ?

Point saya adalah: bisa jadi berbagai kasus keterlambatan pencairan dana beasiswa yanga masif terjadi ini yang berujung pada upaya formal kemendiknas mengupayakan "dana talangan" tsb telah membuka mata kita semua bhw berbagai kasus korupsi di tanah air sesungguhnya merupakan dampak sistemik dari sistem APBN. Oleh karena itu, pencegahan korupsi hendaknya juga dimulai dari reformasi thd sistem APBN itu sendiri. 

Begitukah ?
Salam sistemik :)
Rois
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Salam apa saja,

       Saya sependapat dengan Mas Fatoni. Memang, yang bermasalah adalah sistemnya. Dijaman yang sudah modern seperti ini, penanganan keuangan masih manual! (Mungkin!!!, karena saya orang awam di bidang ini). Tanda-tangan pejabat seperti "tangan-tangan Tuhan" yang bisa menentukan nasib rakyat jelata (termasuk para Diktiers). 
                Kalau pemikiran saya, mbok semua sistem keuangan dibuat yang transparan berkomputerisasi, sehingga bisa diakses secara "realtime". DUIT tidak harus jalan-jalan dan menginap dulu, sebelum SISAnya sampai pada yang berhak. RISKAN!!!
Saya pernah bicara dengan teman oknum BPK dan KPK tentang hal ini. Mereka bilang memang ini sistem yang dipakai di Ngeri......eh Negeri kita tercinta. Jadi sulit untuk merubah, kata mereka.
                           Padahal dengan sistem yang usang begini, korupsi masih sangat mendapat tempat, paling tidak, celah yang "tempting".
Kalau kita lihat beberapa referensi, Negeri kecil seperti Singapore atau yang besar seperti Oz, dana untuk kaum duafa, seperti kita para Diktiers, sangat diutamakan penanganannya-seperti pengalaman temans yang beasiswa dari Oz gavernment atau dari Uni. Government lebih AMANAH, walaupun mereka mungkin tadak tau agama seperti Pejabat kita yang Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. 
Jadi saya pikir, benarn bahwa ini merupakan "dampak sistemik" dari penganggaran kita. Sementara (katanya) sebelum APBN diputuskan, mereka di Senayan pada "Bancakan", setelah diputuskan/dijalankan rakyat harus "sabar". IRONIS!!!!
               Saya berpendapat, sepertinya sulit kiranya untuk merubah status quo penganggaran ini; kalau dari ATAS sendiri tidak peka terhadap permasalahan yang ada. Nasib kita memang harus jadi orang yang SABAR, menunggu Mereka SADAR. Kita memang bangsa yang Reaktif, bukan Proaktif terhadap permasalahan yang ada. Kita sering "kebakaran jenggot", trus cari "kambing hitam" dari apa yang terjadi; bukannya merencanakan sesuatu/sistem dengan matang dan merevisinya sebelum datang masalah yang lebih besar. Alih-alih "pasang badan", kita lebih sering "cuci tangan".

Semoga menjadikan koreksi buat kita semua.
Widhi
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Reformasi APBN, berarti butuh orang-orang DPR
Namun sudah ditebak orang-orang DPR adalah orang-orang partai yang lebih mengutamakan kepentingan partai daripada kepentingan rakyat
Jadi hukum akan dibuat atau dirubah sesuai dengan kepentingan partai atau "apa yang mereka dapatkan"
WALAUPUN ada segelintir anggota DPR yang tidak begitu, mungkin 1% itupun kita tidak tahu prosentase nya dan dasarnya apa !
 
Jadi pak Rois sudah dipastikan pasti "tidak mungkin" mereformasi APBN, walaupun mungkin jika......
Bisa lihat siapa-siapa di DPR, mereka yang notabene artis dan pelawak, itu bukan berarti artis dan pelawak tidak boleh jadi anggota DPR
tapi silahkan lihat rata-rata itu semua yang ada di DPR dan tidak semua pekerjaan orang Indonesia adalah artis dan pelawak, lebih banyak penonton yang tidak terwakili di sana.
Bisa ke sana jika anda mempunyai "money" untuk diselipkan ke partai dengan kamuflase untuk kepentingan yang lebih besar alias "musyawarah untuk mufakat"
 
Kalau gitu kemana semua orang-orang yang berlelah lelah menuntut ilmu ? Untuk apa ilmu itu dituntut ? jika akhirnya toh "tidak dipakai"
maka nya jangan salahkan jika para ilmuwan kita lebih senang "lari" ke luar negeri yang notabene "lebih diterima" dan acceptable
daripada di negara sendiri kita dipaksa menjadi "artis" dan "pelawak" untuk menggantikan para "artis" dan "pelawak" yang menjadi anggota DPR.
Walaupun kadang pendidikan tinggi tidak menjamin kualitas untuk menjadi anggota DPR lebih baik, namun perlu dibuktikan
 
Spits
MAnchester-UK

Wednesday, December 28, 2011

SEMANGAT SAYA JADI DROP (Curhat Di Milis Beasiswa Dikti)

Assalamualaikum Wr. Wb

           Salam Seperjuangan sesama Diktiers...terutama yang masih harap-harap cemas menunggu beasiswanya cair..keep fighting and do not forget for praying..!
kita sebagai manusia berkewajiban untuk tetap berusaha, bekerja dan selebihnya banyak2 berdoa dan menyerahkan semua hasilnya kepada yang kuasa..kerena Tuhan itu maha Melihat dan Mendengar doa-doa hambanya terutama doa2 orang2 yang teraniaya seperti para Diktiers yang belum kunjung menerima beasiswa sampai sekarang..

saya sendiri juga baru saja mengalami hal serupa..sebagai Diktiers program S2, anggaran 2011..gel 5, saya harus berangkat kuliah akhir juni 2011sedangkan beasiswa saya dikabarkan cair september 2011. Harap harap cemas saya menunggu tetapi beasiswa saya Alhamdullilah baru saya terima pertengahan november lalu setelah hampir lima bulan masa perkuliahan saya. 

selama menunggu pencairan, saya hampir2 putus asa dan berurai air mata jika harus mengingat bukan saya sendiri yang harus mengencangkan ikat pinggang di negeri orang tetapi keluarga (anak dan suami) saya di tanah air juga harus ikut menanggung beban akibat berhutang sewaktu saya berangkat kuliah karena univ asal saya tidak sanggup menalangi..akan tetapi Alhamdullilah suami dan keluarga dekat tetap menyemangati saya.

saya sempat khawatir jk matakuliah saya akan gagal semua karena beban pikiran yang cukup berat. jangankan untuk membeli buku k, untuk fotokopi bahan kuliah saja saya harus irit dan pasang akal supaya cukup.. karena persediaan dana saya waktu berangkat hanya untuk 3bulan..
Alhamdullilah  ternyata nilai matakuliah saya lulus semua..

Adapun Hikmah yang saya petik dari pengalaman saya ini adalah :
1. Rasa peduli dan perhatian terhadap sesama  hamba Allah yang kurang beruntung semakin terasah.
2. Kita sebagai hamba Allah harus selalu banyak2 istigfar dan memohon ampun..adakalanya hal ini merupakan cobaan karena kita sedikit terlena  dengan kesibukan dunia.
3. Jangan pernah putus asa dan tetap berjuang 
4. Sewaktu dana cair agar jangan lupa untuk menyimpan sebanyak mungkin untuk cadangan semester berikutnya sebagai antipasi hal2 yang tidak terduga di proses pencairan dana berikutnya.

Demikian sedikit pengalaman berharga saya. semoga saja dapat bermamfaat bagi para sesama Diktiers dalam menghadapi segala kejadian kedepannya. untuk proses pencairana thn 2012 berikutnya, mulai dari sekarang mari kita terus banyaak berusaha, bekerja dan berdoa (Mario Teguh, Golden Way) semoga bisa cair secepatnya dan sesuai dengan harapan kita sehingga kita tidak perlu bolak-balik ditagih dan bolak-balik harus menjelaskan ke univ tempat kita kuliah.

Salam seperjuangan..

Idaryani,

Deakin univ, Australia.

Saturday, April 3, 2010

KPK dan Blog Beasiswa Dikti Bekerja Sama Melawan Korupsi

(Photo : NASIB VETERAN Republik Indonesia, Dapat Nasi Bungkus pada Peringatan hari Pahlawan, karena di Indonesia yang dianggap PAHLAWAN SEJATI hanyalah untuk para KORUPTOR. Baru bisa punya harta berlimpah 7 turunan)      
          


            KPK adalah garda terdepan bagi bangsa indonesia untuk perang melawan korupsi disegala lini dan sektor. sebagaimana yang dikatakan Taufiequrachman Ruki, pemberantasan korupsi tidak hanya mengenai bagaimana menangkap dan memidanakan pelaku tindak pidana korupsi, tapi juga bagaimana mencegah tindak pidana korupsi agar tidak terulang pada masa yang akan datang melalui pendidikan antikorupsi, kampanye antikorupsi dan adanya contoh "island of integrity" (daerah contoh yang bebas korupsi). dalam UU No. 31 Tahun 1999 dan UU No. 20 Tahun 2001. Menurutnya, tindakan preventif (pencegahan) dan represif (pengekangan) ini dilakukan dengan "memposisikan KPK sebagai katalisator (trigger) bagi aparat atau institusi lain agar tercipta good and clean governance dengan pilar utama transparansi, partisipasi dan akuntabilitas".
            Maka kata kuncinya adalah "Pendidikan Anti Korupsi". Sebagaimana telah diketahui masyarakat luas bahwa DIKTI telah menyelenggarakan beasiswa dikti ke luar negeri yaitu mengirimkan ribuan dosen-dosen dari tanah air untuk belajar di berbagai universtas di seluruh dunia. Tetapi dalam pola pelaksanaanya terindikasi Pola-pola korupsi dan penyelewengan. Dimana ribuan dosen yang berada di luar negeri, sebagian besar selalu mengalami keterlambatan dana serta menerima dana dalam keadaaan tidak utuh. Bahkan penunjukan Tunggal sebuah agen Travel atau biro perjalanan yang menyediakan Tiket pesawat keberangkatan bagi si penerima beasiswa DIKTI malah menambah kesulitan  diantaranya prosedur yang sulit dan berbelit-belit dalam mendapatkan Tiket pesawat, sehingga sebagian besar para penerima Beasiswa berangkat dengan dana sendiri karena dikejar waktu untuk segera berkuliah. sekali lagi Ironis.....
Maka sangat diperlukan Reformasi dan pembersihan dalam pengelolaan beasiswa dikti luar negeri ini.
Maka KPK dan http://diktibeasiswa.blogspot.com/ melakukan kerja sama untuk membuka Pos pengaduan online kepada seluruh dosen-dosen penerima beasiswa dikti yang mengalami masalah pencairan dana beasiswa dan sedang berada di luar negeri. Yang sekarang bisa dilihat di Menu bagian sebelah kanan Blog ini. dengan judul "KPK Online Monitoring System".  Silahkan di Klik.
Maka diharapkan segala kesemrawutan dan pola penyaluran dana beasiswa yang bermasalah dapat diperbaiki dengan cara membersihkan oknum-oknum yang terlibat. Semakin banyak para penerima beasiswa dikti ini Aktif dan turut serta dalam pengaduan ini. maka semakin cepat masalah ini dapat diselesaikan.
Wahai, para dosen-dosen penerima beasiswa Dikti. Anda semua adalah pendidik para calon generasi muda indonesia. Jangan biarkan diri anda semua jadi korban korupsi yang menyebabkan anda mengalami kerusakan mental. Mari kita semua manfaatkan KPK Online monitoring system  ( Bisa Di Klik di menu Sebelah kiri Blog Ini) ini untuk kebaikan kita dan generasi selanjutnya.
 Ingat kata  Taufiequrachman Ruki kata kuncinya adalah "Pendidikan Anti Korupsi"

Blog Dikti ini juga dapat ditemukan selain di Blogspot.com dalam Wordpress.com dan Blogdetik.com
 DOSEN-DOSEN PENERIMA BEASISWA DIKTI  : "MENYATAKAN"
 PERANG MELAWAN KORUPSI.....
 Sponsored By BeasiswaLN_DIKTI@yahoogroups.com

Beberapa PTN Menolak Beasiswa Dikti

Beberapa Perguruan Tinggi Negeri di sekitar jawa timur dan jawa tengah serta Yogyakarta mulai mengalihkan dosen-dosen mereka yang mendapatkan beasiswa dikti untuk belajar di luar negeri agar mendapatkan beasiswa selain beasiswa dikti. Hal itu disebabkan antara lain ialah keterbatasan kemampuan PTN tersebut dalam menalangi dana beasiswa mulai menghadapi kendala. Bisa dibayangkan sebuah PTN di jawa mengirimkan sekitar 80an dosen untuk belajar di luar negeri dengan beasiswa dikti. Dimana dana dikti yang diharapkan tak kunjung datang bahkan telat berbulan-bulan bahkan ada yang mendekati hampir 1 tahun. Sudah pasti PTN tersebut berkewajiban secara moral untuk menalangi dana tersebut yang dipastikan memakan anggaran dalam jumlah besar alias Berpuluh-puluh milyard.

Apa yang terjadi jika setiap tahun beasiswa dikti memberangkat kembali puluhan bahkan ratusan dosen-dosen dari PTN tersebut. Maka sudah dipastikan PTN tersebut bisa mengalami kebangkrutan alias pailit. Oleh karenanya Banyak PTN mulai menganjurkan dosen-dosen agar mengambil beasiswa yang lebih pasti dari segi pendanaanya dan mempunyai administrasi yang baik dalam kelancaran dana.

Yang lebih Ironis lagi ialah PTN-PTN atau PTS-PTS di luar jawa yang tidak mampu menalangi dana, hanya mampu memberikan bantuan moral bagi dosen-dosen mereka di luar negeri yang hingga saat ini belum mendapatkan Beasiswa Dikti alias sudah telat hampir 6 bulan.

Begitulah keadaan negeri tercinta indonesia, kalau sudah menyangkut distribusi uang / dana sudah dipastikan terjadi kemacetan dan pemotongan dana disana sini. Apalagi disalurkan melalui birokrasi yang masih bermental Orde Lama. Tidak heran pola pendidikan di indonesia, makin hari makin menghasilkan induvidu-induvidu yang semakin professional dan Ahli dibidang Korupsi dan Penyunatan dana.

Pola yang digunakan dikti dalam menyelenggarakan beasiswa dikti luar negeri, benar-benar merusak mental para si penerima beasiswa. yang nantinya malah menghasilkan Calon-calon koruptor baru.

Friday, April 2, 2010

Beasiswa DIKTI bikin STRESS seluruh keluarga besar

Semua orang secara alami ingin membanggakan ke dua orang tuanya, keluarganya serta sanak kerabatnya. Banyak jalan yang bisa dilalui dengan cara-cara yang halal. Yaitu melalui berbagai prestasi di bidang sekolah. Mendapatkan beasiswa berkali-kali. Dari beasiswa satu ke beasiswa yang lain. Ibarat kata seorang teman "Aku ini bah.. tak pernah sekolah bayar, tetapi orang-orang yang selalu rebutan bayarin aku sekolah".
Kalau kita mendapat beasiswa dari jepang, australia, amerika dll. Bolehlah kita membayangkan pulang setelah lulus nanti ada punya tabungan. Walaupun hanya sekedar jadi uang muka cicilan rumah BTN.
Tapi kalau mendapat Beasiswa DIKTI, jangan harap bisa punya rumah BTN walaupun kuliah ke luar Negeri. Yang ada Rumah, sawah, kebun, tanah, motor semuanya dijual atau dijaminkan ke Bank.... untuk mendapatkan uang sekedar bertahan hidup agar tidak pulang kampung dan bisa membawa pulang gelar "PhD" = Permanent Head Damage.
Dari niat ingin membanggakan keluarga, jadi membuat stress seluruh keluarga besar. Orang tua stress, istri stress, anak stress, mertua stress sampai tetangga aja yang dengar jadi stress. Intinya Full Of Stress. Benar-benar hebat kekuatan gelar PhD bikin orang seluruh kampung Head damage beneran.

Gimana nggak, semua kerabat dan keluarga sibuk kesana kemari Menjual Tanah dan  Aset-aset Keluarga untuk sekedar mencari uang talangan si penerima beasiswa DIKTI .Beginilah beasiswa ala indonesia.
Orang tua sipenerima beasiswa kalau ditanya anaknya kemana pak...? anak ku ini sedang kuliah S3 PhD diluar negeri. Padahal sih anak di luar negeri kerjaannya Phd juga tapi kuliahnya sore sampai malam yaitu PhD = Pizza Hut Delivery.

Wahai teman-teman sebangsa dan setanah air. Kalau masih punya sedikit otak dan kemauan carilah Beasiswa yang bisa pakai modal dengkul alias tanpa modal dari Negara-negara beradab alias Maju. Kalaupun Beasiswa dikti ini dijadikan pilihan, siapkanlah mental dan inventarisir modal yang bisa dipakai. Karena Dana beasiswa dikti ini terlalu Di GAYUSKAN sehingga 99% pasti terlambat dan kadang kurang sana sini bahkan Administrasi pencairan yang prosedurnya berubah rubah alias bikin bingung.
Ada sebagian kecil dari penerima beasiswa dikti ini yang menerima Dana tepat waktu. Tapi ingat itu hanya sebagian kecil, mungkin sekitar 2.5 % dari jumlah seluruh mahasiswa penerima beasiswa dikti. Nah, teman-teman yang sudah menerima dana ini tugasnya adalah menghalang-halangi, mencaci maki, bahkan mengecam Teman-teman yang belum menerima tapi ingin mengangkat masalah ini ke publik. Ibarat Susno (POLRI) mengadukan kasus malah dijadikan tersangka. Kasihan Mental teman-teman penerima beasiswa dikti seperti ini. Rakyat Indonesia tidak rela membayar mereka semua.

Kutipan milis Dikti : BeasiswaLN_DIKTI@ yahoogroups. com

Saya juga sangat menyayangkan ada diantara kita yang berlagak kesatria dengan mengatakan sebahagian dari kita adalah cengeng tidak bisa hidup susah, atau malah ngelunjak sa’at dikasi kemewahan oleh bangsa sendiri. Menurut saya pernyata’an-pernyataan seperti sangat tidak berdasar dan hanya menebarkan kebencian sesama kita. Sebagaimana kita ketahui program beasiswa Dikti ini sangat unik bila dibandingkan dengan sumber-sumber beasiswa lain. Umumnya beasiswa lain merekut karya siswa dari berbagai Negara untuk ditempatkan di Negara tertentu (baca: Negara sumber beasiswa) dengan kondisi yang relative sama. Dan treatment yang mereka lakukan telah melalui proses puluhan tahun, sehingga tidak ada masalah yang significant dalam pelaksanaannya. 
Sedangkan beasiswa dikti sebaliknya, karya siswa berasal dari satu sumber dan karyasiswa nya tersebar diseluruh dunia dimana baik iklim, maupun pola pendidikannya berbeda satu sama yang lainnya. Hal ini bertambah parah dengan pola treatment yang tidak dipersiapkan sebaik mungkin (baca: hal ini diakui oleh team monev yang berkunjung ke Wina beberapa hari yang lalu).
Oleh karena itu mungkin karyasiswa disuatu Negara memiliki tingkat immune yang berbeda atas keterlambatan pendistribusian beasiswa dengan Negara yang lain. Sehingga menurut saya akan sangat biadab kalau kita memvonis seseorang karyasiswa Dikti yang belum menerima beasiswa hingga hari ini dengan punishment cengeng, ngelunjak, atau sebagainya. Karena bisa jadi hari ini hanya umpatan yang masih bisa karyasiswa tersebut lakukan karena utang yang sudah keliling pinggang dan tagihan spp yang belum dapat terlunasi. Sedangkan kita yang telah menerima beasiswa sejak Februari karena ada talangan dari instansi asal dengan sangat congkak memvonis si karyasiswa dengan kata-kata tidak pantas. Kalau memang kita belum mampu meringankan beban rekan-rekan yang terlilit utang tersebut, saya kira sangat bijaksana kalau kita justru tidak menghakiminya.
http://miketionary.blogspot.com/2006/03/phd-permanent-head-damage_06.html

Thursday, April 1, 2010

Team Monitoring dan Evaluation DIKTI adalah MONITORING Termahal dan Boros

Kunjungan ke luar negeri banyak dijadikan alasan dari para pejabat-pejabat di indonesia alias kedok untuk jalan-jalan ke luar negeri sekaligus merampok uang perjalanan dinas. Sekedar contoh, Berapa ratus kali kunjungan anggota DPR atau DPRD ketempat kami dengan atas nama Studi banding yang nggak jelas.

Baru-baru ini tim Monev DIKTI (Monitoring dan Evaluation) melakukan kunjungan monitoring terhadap 4 (empat) orang Mahasiswa penerima beasiswa dikti. Sedangkan Team Monitoring Dikti berjumlah 6 orang. Suatu tindakan yang diluar batas kewajaran.

Mendatangkan 6 orang dari indonesia hanya untuk memonitor 4 orang. Edaann.... kenapa Edaan.....?


Karena ditengah ribuan penerima beasiswa dikti yang lagi kesulitan dana, para pejabat Dikti menghamburkan duit kesana kemari. Ibarat Gayus, Orang-orang miskin antri beras, Gayus menggelapkan 28 Milyard...
Ironis...
Keterlambatan dana Dikti dijawab oleh team monitoring dengan jawaban ala pejabat orde baru, saling lempar bola dan menyalahkan institusi lain. Pantes, pendidikan di indonesia tertinggal jauh dari Vietnam, bahkan Malaysia sudah tidak mungkin terkejar dengan perilaku Korup dari pejabat-pejabat indonesia di segala sektor.

Kutipan dari Milis DIKTI tentang kunjungan Team Monev DIKTI di WINA.

Beberapa hari yang lalu saya menghadiri Monitoring dan Evaluation (Monev) yang dilakukan oleh Team DIKTI bekerjasama dengan KBRI Berlin dan KBRI Wina. Team monitor yang datang berjumlah 5 orang plus Counselor KBRI Wina sehingga total menjadi 6 orang. Sedangkan yang dimonitoring berjumlah 4 orang (baca: Diktier di Vienna memang cuma 4 orang dan 100% hadir). Mungkin ini adalah monitoring yang termahal yang pernah ada di dunia.
Setelah dibuka oleh counselor KBRI Wina, ketua team Monev memulai monitoring dengan memperkenalkan satu per satu team Monev dan dilanjutkan menjelaskan pertanyaan-pertanya an yang paling sering muncul sekitar pelaksanaan beasiswa Dikti, termasuk salah satunya masalah keterlambatan pendistribusian beasiswa. Secara explicit team Monev mengatakakan bahwa peran PIC lebih dominan atas keterlambatan pendistribusian beasiswa.
Atas dasar pernyataan tersebut saya mengajukan usulan kepada team Monev kalau memang demikian adanya mengapa Dikti tidak memberikan sedikit pressure kepada PIC agar dapat mendistribusikan beasiswa sesegera mungkin. Menurut saya hal ini penting untuk memperjelas duduk persoalan yang sebenarnya penyebab keterlambatan pendistribusian beasiswa yang kerap kita alami. Atau (baca: lanjutan usulan dari saya) paling tidak Dikti bisa membuat press release di website Dikti pada bulan tertentu beasiswa telah dapat dicairkan dan didistribusikan kepada karya siswa dengan tujuan agar karya siswa tidak mendeskriditkan Dikti sebagai sumber keterlambatan pendistribusian beasiswa.
Atas pertanyaan/usulan saya tersebut, team Monev mengatakan “tidak etis mencampuri urusan rumah tangga Universitas/ Kopertis hingga sejauh itu”. Dari jawaban ini saya menjadi ragu dengan statement-statemen saya sebelumnya yang menyatakan bahwa keterlambatan pendistribusian murni disebabkan oleh PIC yang tidak care terhadap karya siswanya. Bisa jadi ada udang dibalik rempeyek atau ada Gayus di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.